Sabtu, 28 November 2009

Peluang Bisnis Hortikultura Masih Luas


Peluang potensi bisnis bidang hortikultura di Indonesia masih sangat luas. Terutama di dunia internasional, produk hortikultura asal Indonesia yang beredar masih sangat sedikit. Ini menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman hortikultura, terutama dari daerah Malang.

Hal itu disampaikan Kepala Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian RI, Dr Ahmad Dimyati, saat membuka Pameran East Java Flora Festival di Gedung Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (19/5). Hadir dalam kesempatan itu, Rektor UMM, Drs Muhadjir Effendy MAP dan Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM Prof Dr Malik Fadjar.
Menurut Dimyati, potensi daerah Malang masih cukup besar untuk pengembangan budidaya tanaman. Dengan sedikit peningkatan teknologi, investasi dan kondisi kundusif di lingkungan masyarakat, sumber daya alam (SDA) di bidang ini akan meningkat.
"Dan sudah pasti hasilnya bisa dinikmati masyarakat luas," tegasnya.

Dalam kegiatan yang dikuti sekitar 84 pengusaha bidang tanaman dan lembaga penelitian itu, berbagai produk dipamerkan. Di antaranya tanaman jenis bunga, daun-daunan, dan buah serta berbagai jenis pupuk, pot, dan benih. Tak ketinggalan sejumlah produk olahan seperti cuka apel, sari apel dan jejang apel. Produk menarik lain misalnya, stan tanaman yang menawarkan media tanam berupa jelly dengan aneka warna yang bisa diletakkan dalam pot kaca tembus pandang.
Ketua penyelenggara, Drs Untung Santoso MSi, mengatakan melalui pameran ini diharapkan masyarakat pecinta tanaman bisa menambah koleksinya. "Selain itu juga memberi wadah bagi para pengusaha dan penjual tanaman mengenalkan produknya," tandas Untung. rie

Sumber :
http://www1.surya.co.id/v2/?p=9799
20 Mei 2007

Sumber Gambar:
http://1.bp.blogspot.com/_ON3V_iGCKwg/RqjPNvdUSVI/AAAAAAAAATI/UKrDIBc1OMk/s400/fruits_and_vegetables2.jpg

Pemanasan Global Pengaruhi Tanaman Hortikultura

Departemen Pertanian (Deptan) mengungkapkan gejala pemanasan global berupa peningkatan suhu bumi telah mempengaruhi pertanaman hortikultura terutama komoditas yang membutuhkan suhu kurang dari 25 derajat celsius seperti sayuran buah, dan tanaman hias.

Dirjen Hortikultura Deptan, Ahmad Dimyati di Jakarta, Selasa mengatakan, di beberapa wilayah sentra produksi kentang mulai terlihat untuk menanam komoditas tersebut dari yang semula dapat dilakukan pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl) kini harus naik pada ketinggian 1.200 meter dpl.

"Jadi sekarang untuk menanam kentang harus mencari lahan yang lebih tinggi lagi," katanya.

Menurut dia, terjadinya peningkatan suhu di dataran-dataran tinggi tersebut disebabkan banyak lahan di kawasan itu berubah menjadi pemukiman maupun kawasan industri.

Kondisi tersebut, tambahnya, meningkatkan suhu di wilayah pegunungan yang banyak dimanfaatkan untuk menanam sayuran yang membutuhkan suhu dingin, akibatnya produktivitasnya menurun.

Ahmad Dimyati mengatakan, untuk mengantisipasi gejala pemanasan suhu bumi tersebut pihaknya melakukan pengembangan tanaman sayur maupun buah yang dapat dibudidayakan pada lahan di dataran rendah maupun menengah.

"Pada tahap awal kami akan kembangkan kentang yang bisa ditanam pada ketinggian 600-800 meter dpl atau pada suhu 18 derajat celsius," katanya.

Dikatakannya, pada 1994 Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian, Deptan berhasil mengembangkan kentang pada lahan berketinggian 600 meter dpl di kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Saat ini, menurut dia, 75 persen dari total kebutuhan kentang di dalam negeri masih harus dipenuhi dari impor.

Kebutuhan kentang tersebut terbanyak untuk industri makanan olahan seperti keripik kentang, yang mana kapasitas pabrik mencapai 10 ribu ton per tahun.

Dirjen Hortikultura menegaskan, bertepatan dengan Tahun Kentang Internasional (Internasional Potato Year) pada 2008 pemerintah bertekad untuk mampu memenuhi kebutuhan kentang dalam negeri secara mandiri. (*/boo)

Sumber :
http://www.kapanlagi.com/h/0000195411.html
17 Oktober 2007

Deptan Kurangi Impor Produk Hortikultura

Departemen Pertanian (Deptan) berencana mengurangi impor hortikultura (sayur dan buah), hal tersebut dilakukan untuk mendukung usaha dalam negeri dan menciptakan daya saing usaha.

"Saat ini produk impor hortikultura di pasaran sudah sangat menjamur. Pasar impor itu harus direbut kembali agar pelaku usaha dalam negeri semakin termotivasi untuk meningkatkan usahanya." kata Sekretaris Ditjen Hortikultura Deptan. Sri Kuntarsih. dalam Lokakarya Kehumasan Deptan, di Bandung, Rabu (11/11).

Menurutnya, impor hortikultura hingga saat ini mencapai 60 persen dari total produk hortikultura yang beredar di pasar modern. Namun, ke depan akan dikurangi menjadi 40 persen.

Untuk mendorong peningkatan produksi hortikultura di dalam negeri, katanya, pemerintah berupaya menerapkan teknologi maju untuk budidaya hortikultura.menggunakan benih unggul, menentukan komoditas yang akan diajukan sebagai prioritas, serta menerapkan teknik penanganan pascapanen untuk mengurangi losses.

Menteri Pertanian baru-baru ini juga mengeluarkan Peraturan Menpertan No.48 Permentan/OT. 140/10/ 2009 mengenai pedoman budidaya buah dan sayur yang baik. Ini dilakukan supaya mutu hortikultura tetap baik.

Di sisi lain, pemerintah akan mengatasi keterbatasan lahan, diversifikasi komoditas, mengatur pola tanam dalam menjaga ketersediaan sepanjang musim, optimalisasi pekarangan untuk pengembangan sayuran indigenous maupun mengatur manajemen usaha secara bekelompok

Sedangkan untuk membendung komoditi hortikultura impor, katanya, pemerintah akan menetapkan peraturan sanitary dan phytosanitary serta sanksinya. Selain itu. menentukan batas maksimum residu dan sanksinya. Peraturan impor hanya diizinkan pada saat tidak musim panen buah.

"Selanjutnya pemerintah akan memperketat pengawasan perkarantinaan. registrasi importir dan periode pengakuan importir. Bahkan, kami akan melakukan pengawasan terhadap mutu produk hortikultura impor yang beredar di pasar dalam negeri." jelasnya.

Pemerintah juga akan mengatasi ketergantungan benih impor dengan melakukan revitalisasi pembenihan secara bertahap, memperkuat industri pembenihan dalam negeri dan melakukan pensembagan sistem informasi manajemen perbenihan.

"Langkah pemerintah itu diikuti permodalan vane memadai. Bahkan, untuk meningkatkan akses permo daln. pemerintah akan mr lakukan sertifikasi lahan, melakukan penjaminan usa ha berupa pasar dalam ben tuk kemitraan dagang tertulis dan jangka panjang." katanya, (cr-1)

Sumber :
Pelita, 12 November 2009 dalam :
http://www.bataviase.co.id/detailberita-10237339.html

Adopsi Teknologi Sektor Hortikultura BPTP Rendah

Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian (Balitbang Deptan) mengakui, adopsi teknologi yang dihasilkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) masih sangat rendah di sektor hortikultura, berbeda dengan tanaman pangan/palawija yang daya serapnya rata-rata cukup bagus.

"Itu terjadi karena di sektor hortikultura peran swasta sangat kuat, beda dengan tanaman pangan dan palawija yang masih banyak juga dikuasai oleh petani," kata kepala Balitbang Deptan, Gatot Irianto, di Medan, malam ini.

Dia berbicara menjawab pertanyaan wartawan usai acara pergantian Kepala BPPT Sumut dari pejabat lama M Prama Yufdy ke Didik Harinowo dimana sekaligus dilakukan penandatanganan kerja sama BPTP Sumut dan Pemkab Batubara dan Pakpak Bharat.

Untuk meningkatkan adopsi teknologi di sektor hortikultura itu, maka, kata dia, BPTP sudah diminta menciptakan teknologi untuk pengembangan buah lokal seperti Rambutan Binjai, Sumut. Apalagi, katanya, potensi pasar buah lokal sebenarnya masih cukup besar, meski memang harus dimulai dengan rasa cinta konsumen atas produk dalam negeri.

"Buah lokal kalau ditangani serius juga bisa menghasilkan rasa dan kualitas buah yang tidak kalah bahkan bisa lebih unggul dari produk impor," katanya.

Menjawab pertanyaan tentang buah lokal yang kalah murah dari harga jual buah impor, menurut Gatot, itu sebenarnya tidak benar, karena hanya merupakan "permainan".

"Harga buah impor tidak transparan. Lihat saja, harga buah yang murah itu tidak bertahan lama, dimana ketika buah lokal produksinya rendah atau tidak ada di pasar, maka harga buah impor itu menjadi melonjak tajam," katanya.

Sumber :
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=50633:adopsi-teknologi-sektor-hortikultura-bptp-rendah&catid=14:medan&Itemid=27
7 September 2009

16 Kawasan Hortikultura Siap Direalisasikan

Departemen Pertanian pada 2008 siap merealisasikan 16 kawasan hortikultura di sejumlah wilayah di tanah air guna meningkatkan produksi maupun mutu komoditas pertanian tersebut.


Dirjen Hortikultura Achmad Dimyati di Jakarta, Sabtu mengatakan, dalam setiap kawasan hortikultura tersebut hanya akan dikembangkan satu jenis komoditas unggulan seperti buah-buahan, sayuran, tanaman hias ataupun biofarmaka.


"Target dari pengembangan ini yakni munculnya model kawasan yang komprehensif mulai dari sektor budidaya hingga pasca panen," katanya.


Ke 16 kawasan komoditas hortikultura yang siap dikembangkan tersebut yakni bawang merah di wilayah Brebes, Jawa Tengah serta Cirebon dan Kuningan Jawa Barat.


Manggis di Purwakarta dan Subang (Jawa Barat), Mangga di Cirebon, Indramayu dan Majalengka (Jawa Barat), Jamur Merang meliputi Karawang, Subang, Purwakarta dan Indramayu.


Sedangkan untuk kawasan kentang meliputi Tomohon, Minahasa dan Mondoinding ketiganya di Sulawesi Utara, Cabe dikembangkan di Garut, Ciamis dan Tasikmalaya (Jawa Barat), sementara Salak di Sleman Jogjakarta.


Pengembangan kawasan melon di beberapa wilayah pantai Utara Jawa Tengah, Nenas di Kalimantan Barat dan pisang di Lumajang Jawa Timur.


Sementara itu untuk jenis tanaman hias seperti pakis di Temanggung dan Magelang Jawa Tengah, Rafis meliputi Padang dan Riau, kawasan anggrek dikembangkan di Jabodetabek dan rimpang atau temulawak di Semarang Jawa Tengah.


Selain itu juga siap dikembangkan kawasan tanaman hias jenis daun-daunan.


Dimyati mengatakan, pengembangan 16 kawasan hortikultura tersebut merupakan penyempitan dari 60 kawasan yang direncanakan yang kemudian dikecilkan lagi menjadi 32 kawasan.


Meskipun setiap kawasan hortikultura memiliki komoditas utama yang harus dikembangkan, namun menurut dia masih bisa memiliki komoditas tambahan.


"Penanggung jawab pengembangan kawasan tersebut akan dilakukan oleh setiap pejabat eselon III lingkup Ditjen Hortikultura," katanya.


Pengembangan sebuah kawasan menjadi kawasan agribisnis hortikultura tersebut, Dirjen menyatakan, didasarkan pada beberapa hal seperti tingkat kesiapan wilayah dan pentingnya komoditas yang akan dikembangkan.


Selain itu juga adanya dukungan akses, penerapan praktek budidaya yang baik atau Good Agriculture Practices (GAP), adanya kelembagaan petani serta rantai pasokan atau supply chain yang bagus.


Untuk wilayah-wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan hortikultura nantinya akan dilengkapi dengan komponen-komponen yang diperlukan seperti infrastruktur, sarana dan prasarana, dukungan perbankan maupun fasilitas rantai pasok.


"Namun untuk melengkapi komponen pendukung ini merupakan tugas dari Ditjen lain seperti P2HP (pengolahan dan pemasaran Hasil pertanian) ataupun PLA (Pengelolaan Lahan dan Air) bahkan dari Departemen Pekerjaan Umum," katanya.


Ketika ditanyakan anggaran yang disiapkan Deptan untuk pengembangan kawasan hortikultura tersebut, Achmad Dimyati tidak menyebut angka pasti karena setiap kawasan dan komoditas berbeda-beda. (*/bee)

Sumber :
http://www.kapanlagi.com/h/0000246516.html
23 Agustus 2008

Pemerintah Bendung Produk Hortikultura Impor

Pemerintah akan membendung produk hortikultura, baik buah dan sayuran impor. Dari hasil kajian Bank Dunia, ternyata hampir 60% pasar hortikultura dalam negeri dikuasai produk impor. Maraknya produk impor itu membuat pelaku usaha, termasuk petani menjadi kurang bergairah.



Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Sri Kuntarsih kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (11/11) mengatakan, ada beberapa kebijakan yang disiapkan pemerintah untuk membendung produk hortikultura impor. Misalnya, menetapkan peraturan sanitary dan phytosanitary, penetapan batas maksimum residu, penetapan standar nasional Indonesia. Tiga ketetapan itu nantinya diikuti dengan sanksi hukum agar pelaku yang melanggar bisa jera.

Kebijakan lain yang akan diberlakukan adalah impor produk hortikultura hanya diijinkan saat tidak musim panen (off season). Pemerintah juga akan melakukan pengawasan mutu terhadap produk impor, terutama pada batas maksimum residu, cemaran biologis, cemaran kimia, dan cemaran benda lain yang menganggu dan membahayakan kesehatan manusia.

“Untuk membuat petani dan pelaku usaha hortikultura bergairah, nomor satu yang harus kita kerjakan adalah membenahi pasar. Kajian Bank Dunia, 60% pasar hortikultura dikuasai produk impor, 40%-nya dalam negeri.”

Pemerintah berupaya mengubah kondisi tersebut. Selama periode 2010-2014, diharapkan produk dalam negeri bisa menguasai minimal 60% pasar dalam negeri. Guna mengurangi impor dan meningkatkan daya saing, pemerintah juga mendorong petani meningkatkan mutu produk hortikultura melalui perbaikan mutu benih dan produk hasil panen.

Karena itu pemerintah juga akan mendorong tumbuhnya pelaku agribisnis komoditi hortikultura. Sebenarnya selama periode 1999-2005, pelaku agribisnis hortikultura tumbuh pesat. Tapi sayangnya sejak 2005, kembali turun karena banyak pelaku bisnis hortikultura luar negeri terjun langsung membeli produk dari petani. Karena kalah bersaing, terutama dalam permodalan banyak pelaku agribisnis dalam negeri gulung tikar.

“Ini harus kita ubah. Tapi karena merupakan tupoksi Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian akan mengusulkan agar dibuat kebijakan yang mengatur bagaimana pedagang asing tidak membeli langsung ke petani.”

Ada beberapa strategi dalam pengembangan hortikultura yakni, pengembangan kawasan agribisnis hortikultura, penataan rantai pasokan (supply chain management), penerapan budidaya pertanian yang baik (good agricultural practices/GAP) dan standar Operationing Prosedure (SOP), serta memberikan fasilitas investasi hortikultura.

Pemerintah menargetkan hingga 2014 terjadi peningkatan produksi buah sebanyak 23.805.903 ton atau naik 5%, sayuran 12.264.052 (4,2%), biofarmaka 598.284.439 ton (4%) dan tanaman hias 278.745.121 tangkai (6,5%). Dari peningkatan itu, pemerintah tidak hanya ingin menguasai pasar dalam negeri, tetapi juga ingin meningkatkan ekspor buah dan tanaman hias masing-masing sebesar 5%. (Julian)

Sumber :
http://agroindonesia.co.id/2009/11/12/pemerintah-bendung-produk-hortikultura-impor/
12 November 2009

Konsumsi Hortikultura Masyarakat Indonesia Mencapai Rp. 20 Triliun Per Tahun

Mengutip dari website ipb.ac.id (23/10/09), saat ini Hasil produksi buah dalam negeri sebanyak 400 juta ton setiap tahunnya, selain itu di Indonesia, ada 38 juta orang kaya yang menginginkan kualitas sayuran yang baik dari segi rasa, penampilan hingga aroma, untuk meningkatkan serta perbaikan kualitas petani, saat ini Perhorti dan Departemen Pertanian bekerjasama dengan 2.000 petani.

Perlu diketahui pula bahwa konsumsi holtikultura orang kaya setiap tahun mencapai Rp20 triliun. "Daripada perputaran uang untuk import lebih baik dipenuhi oleh petani lokal, ujar Prof Roedhy Poerwanto guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Oleh karena itu, maka sudah saatnya para pemulia tanaman Indonesia menghasilkan varietas-varietas buah dan sayuran berkualitas dan bermutu tinggi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang mencapai Rp. 20 triliyun/ tahunnya (ACS/ BB Online)

Sumber :
http://www.bandungbaratonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=176:konsumsi-hortikultura-masyarakat-indonesia-mencapai-rp-20-triliuntahun&catid=45:pertanian&Itemid=66
25 Oktober 2009

Realisasi Kredit Hortikultura Sangat Rendah

Realisasi penyaluran kredit hortikultura masih rendah, yakni baru mencapai Rp380 juta dari plafon Kredit Ketahanan Pangan dan Energi (KKPE) 2009 yang disediakan sebesar Rp1,4 miliar.

Demikian diungkapkan Dirjen Hortikultura Departemen Pertanian Achmad Dimyati. Dia menyebutkan, realisasi penyerapan kredit hortikultura yang masih rendah tersebut karena perbankan masih menganggap usaha tani hortikultura tidak bankable dan penuh resiko.

"Tahun 2010 kami akan lebih tingkatkan pada aspek pemberdayaan serapan kredit hortikultura yang saat ini masih sangat rendah. Jadi kami akan sangat perhatikan pada aspek pembiayaan," katanya di Jakarta, Selasa (29/9/09) seperti dilansir laman Depkominfo.

Berdasarkan data yang dikeluarkan Pusat Pembiayaan Departemen Pertanian, dari total penyaluran KKPE senilai Rp2 triliun realisasi penyerapan terbesar pada usaha tani tebu sebanyak Rp418,11 miliar. Kemudian untuk peternakan dan dan pengadaan pangan masing-masing Rp172,642 miliar dan Rp5,298 miliar.

Sedangkan realisasi KKPE untuk tanaman pangan sebesar Rp66,130 miliar. Sementara hortikultura menempati urutan terendah yakni Rp380 juta.

Menurut Dimyati, pemerintah akan menggandeng lembaga swadaya masyarakat (LSM) untuk pemberdayaan masyarakat yang bergerak dalam bidang usaha tani hortikultura guna menyiasati rendahnya serapan kredit tersebut.

Disebutkan ada dua LSM yang akan digandeng yakni Horticulture Chain Centre (HCC) dan Horticulture Partnership Support Programme (HPSP). Keduanya adalah LSM dari Belanda yang akan mendampingi petani dalam usaha tani mulai dari budidaya hingga pemasaran.

"Karena berasal dari negara yang sama dengan kedua LSM tersebut maka Rabobank juga akan memberikan bantuan permodalan, " kata Dimyati.

Selain itu, menurut dia, pemerintah akan menyediakan anggaran khusus pembangunan infrastruktur, pembukaan lahan baru dan packaging untuk mendorong pengembangan agribisnis hortikultura.

Sementara itu untuk mendorong produk hortikultura mampu menembus pasar internasional, lanjutnya, pemerintah telah mengembangkan kawasan hortikultura.

Dalam kawasan tersebut setiap kebun hortikultura harus mendapatkan registrasi agar setiap produk yang dihasilkan memenuhi persyaratan dan standar Good Agriculture Practices (GAP).

Saat ini sudah ada sekitar 2000 kebun untuk 17 komoditas yang telah teregistrasi seperti pada salak, jeruk, belimbing, melon, apel, mangga, manggis, durian, jambu air, semangka, markisa, strawberry, nenas, pisang, sawo, duku dan pepaya berlokasi di 29 Kabupaten/kota di 12 provinsi. kbc3

Sumber :
http://www.kabarbisnis.com/umum/agribisnis/285996-Realisasi_kredit_hortikultura_sangat_rendah.html
29 September 2009

Peluang Bisnis Hortikultura Masih Luas

Peluang potensi bisnis bidang hortikultura di Indonesia masih sangat luas. Terutama di dunia internasional, produk hortikultura asal Indonesia yang beredar masih sangat sedikit. Ini menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman hortikultura, terutama dari daerah Malang.

Hal itu disampaikan Kepala Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian RI, Dr Ahmad Dimyati, saat membuka Pameran East Java Flora Festival di Gedung Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (19/5). Hadir dalam kesempatan itu, Rektor UMM, Drs Muhadjir Effendy MAP dan Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM Prof Dr Malik Fadjar.
Menurut Dimyati, potensi daerah Malang masih cukup besar untuk pengembangan budidaya tanaman. Dengan sedikit peningkatan teknologi, investasi dan kondisi kundusif di lingkungan masyarakat, sumber daya alam (SDA) di bidang ini akan meningkat.
"Dan sudah pasti hasilnya bisa dinikmati masyarakat luas," tegasnya.

Dalam kegiatan yang dikuti sekitar 84 pengusaha bidang tanaman dan lembaga penelitian itu, berbagai produk dipamerkan. Di antaranya tanaman jenis bunga, daun-daunan, dan buah serta berbagai jenis pupuk, pot, dan benih. Tak ketinggalan sejumlah produk olahan seperti cuka apel, sari apel dan jejang apel. Produk menarik lain misalnya, stan tanaman yang menawarkan media tanam berupa jelly dengan aneka warna yang bisa diletakkan dalam pot kaca tembus pandang.
Ketua penyelenggara, Drs Untung Santoso MSi, mengatakan melalui pameran ini diharapkan masyarakat pecinta tanaman bisa menambah koleksinya. "Selain itu juga memberi wadah bagi para pengusaha dan penjual tanaman mengenalkan produknya," tandas Untung. rie

Sumber :
http://www1.surya.co.id/v2/?p=9799
20 Mei 2007

Dikembangkan Kawasan Agribisnis Hortikultura

Departemen Pertanian akan mengembangkan konsep baru berupa Kawasan Agribisnis Hortikultura atau KAH, untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil pertanian hortikultura.

Di dalam KAH, nantinya akan dibangun fasilitas infrastruktur ekonomi hortikultura berupa penyediaan sarana produksi, budidaya, penanganan dan pengolahan pascapanen, termasuk sarana pemasaran.

"Kami telah mengidentifikasikan 66 kawasan di seluruh Indonesia. Kawasan ini akan menggabungkan beberapa sentra produksi hortikultura yang berdekatan. Jadi dapat lintas kabupaten bahkan lintas provinsi, dapat pula lebih dari satu komoditas," ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Ahmad Dimyati, Sabtu (28/4) di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Menurut Ahmad, setelah identifikasi, akan dilanjutkan verifikasi ke lapangan, kemudian digelar musyarawarah rencana pembangunan termasuk penyusunan pembiayaan.

Beberapa KAH yang sudah diidentifikasi, diantaranya Dataran Tinggi Gayo di Aceh untuk komoditas kopi, Lampung Barat sebagai penghasil sayur-mayur, Banten penghasil durian dan sawo, Cirebon-Majalengka-Brebes penghasil bawang merah, kemudian Subang-Purwakarta penghasil manggis.

"Ada beberapa permasalahan klasik hortikultura, seperti mahalnya biaya transportasi yang menaikan harga produk sehingga mengurangi daya saing produk. Kemudian keberadaan tengkulak. Dengan pembentukan kawasan, sinergi beberapa kekuatan ekonomi akan mereduksi penghambat itu," ujar Ahmad.

Ketika KAH terbentuk maka lebih mudah membuat perkiraan usaha termasuk permodalan dan peluang bisnis. Di Indonesia, potensi hortikultura sangat besar.

Luas panen

Tanaman yang dikembangkan sebanyak 323 varietas, terdiri 80 varietas sayuran, 60 varietas buah-buahan, 117 varietas tanaman hias, dan 66 varietas biofarma.

Luas panen untuk buah-buahan saja 717.428 hektar dengan produksi 14,79 juta ton. Buah yang dieskpor 0,27 juta ton per tahun dengan nilai 150 juta dollar Amerika Serikat.

Komoditas prioritas untuk buah terdiri jeruk, pisang, mangga, manggis. Sedangkan sayuran terdiri cabe, bawang merah, dan kentang.

Untuk tanaman hias, komoditas prioritasnya anggrek dan bunga lili. Sementara komoditas unggulan untuk buah berupa durian, pepaya, salak, dan nenas.

Untuk sayuran terdiri tomat, kubis, kacang panjang, dan bawang putih. Sedangkan tanaman hias berupa mawar, anyelir, krisan, sedap malam, dan dracaena.

Saat berkunjung ke Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, petani manggis Ade Sugema mengatakan, banyaknya pengumpul menyebabkan harga jual manggis tidak terlalu baik. Jika mata rantai perdagangan manggis bisa dipotong, keuntungan petani bisa lebih besar.

Ahmad Dimyati menambahkan, KAH akan berperan lebih besar bagi petani. Tidak hanya membangun pusat pemasaran, tetapi KAH juga akan memberi pembelajaran pada petani supaya menghasilkan buah atau sayur-mayur dengan kualitas terbaik.

Untuk manggis kualitas ekspor dijual dengan harga Rp 15.000- Rp 17.000 per kilogram. Sedangkan harga jual manggis untuk pasar lokal hanya Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram. (RYO)

Sumber :
http://202.146.5.33/kompas-cetak/0704/30/ekonomi/3490783.htm
30 April 2007

Ekspor Hortikultura Belum Imbangi Impor

Ekspor komoditas hortikultura nasional selama 2007 tercatat masih lebih rendah, baik dari segi volume maupun nilainya, dibanding impor produk serupa dari negara lain.

Dalam catatan Kinerja Ditjen Hortikultura Tahun 2007 yang disampaikan di Jakarta, Senin (7/1) malam, menyebutkan ekspor komoditas sayuran selama tahun lalu diperkirakan sebanyak 261.649,9 ton dengan nilai US$ 141,57 juta.

Sedangkan impor untuk komoditas sayuran pada 2007 diperkirakan mencapai 594.995,7 ton dengan nilai US$ 285,07 juta.

"Komoditas sayuran yang diekspor maupun diimpor tersebut meliputi kentang, tomat, bawang merah, dan bawang putih, " kata Dirjen Hortikultura Deptan, Ahmad Dimyati.

Selain itu, tambahnya, juga kubis, kembang kol, jamur, ketimun, terung, wortel, bawang daun, kacang merah, buncis, bayam, cabai serta sayuran lainnya.

Begitu juga untuk ekspor buah-buahan hanya sebesar 278.871,6 ton senilai US$ 159,34 juta atau sekitar 50 persen dari impornya yang diperkirakan mencapai 475.457,8 ton senilai US$ 387,95 juta.

Ekspor maupun impor komoditas buah-buahan meliputi pisang, nanas, alpukat, jambu biji, mangga, manggis, jeruk, pepaya, rambutan, langsat atau duku, durian, semangka, melon dan buah-buahan lainnya.

Sementara itu, ekspor komoditas tanaman hias selama 2007 terdiri dari anggrek dan tanaman hias lainnya mencapai 17.690,2 ton dengan nilai US$ 18,42 juta lebih tinggi dari tingkat impor yang mencapai 1.148,1 ton senilai US$ 1,80 juta.

Begitu juga untuk tanaman biofarmaka yang meliputi kunyit, temulawak maupun komoditas biofarmaka lainnya baik volume maupun nilai ekspor selama 2007 melebihi impor.

Selama 2007 ekspor tanaman biofarmaka mencapai 5.749,5 ton senilai US$ 5,31 juta sementara impornya hanya 680,3 ton dengan nilai US$ 936.862.

Tingginya angka impor komoditas hortikultura nasional tersebut terlihat juga dari maraknya produk buah dan sayuran dari luar yang beredar di pasaran modern yang diperkirakan mencapai 15% pada 2004 dari 8% pada 1994.

Mengutip data yang dikeluarkan Bank Dunia 2007, dari 15% volume peredaran komoditas impor di pasar modern Indonesia tersebut sebanyak 20% merupakan produk sayuran sedangkan buah-buahan mencapai 80%.

Sementara itu menyinggung produksi nasional komoditas hortikultura selama 2007, Ahmad Dimyati menyatakan, mengalami peningkatan sebesar 4,34-7,3% dibanding tahun sebelumnya.

Produksi buah-buahan selama 2007 mencapai 17,35 juta ton naik 7,3 % dari 2006 yang hanya 16,17 juta ton, begitu juga komoditas sayuran naik dari 9,52 juta ton menjadi 9,94 juta ton.

Sedangkan untuk tanaman biofarmaka produksi 2007 sebanyak 471.927 ton naik dari tahun sebelumnya 447.558 ton, tanaman anggrek dan non anggrek meningkat menjadi 178,25 juta tangkai dari 2006 yang hanya 166,64 juta tangkai.

"Peningkatan produksi hortikultura selama 2007 ternyata belum dibarengi menembus pasar luar negeri karena ekspor masih lebih kecil dibanding impor," katanya.

Oleh karena itu, tambahnya, masih perlu kerja keras untuk meningkatkan daya saing produk hortikultura nasional, yang salah satunya dengan perbaikan perdaganan maupun konsumsi baik di dalam maupun luar negeri. [Ant/P1]

Sumber :
http://www.inilah.com/berita/ekonomi/2008/01/08/6717/ekspor-hortikultura-belum-imbangi-impor/
8 Januari 2008

Jumat, 27 November 2009

Pentingnya Pemetaan Hortikultura di Aceh

POTENSI pengambangan komoditi hortikultura di negeri ‘Serambi Mekkah’ ini masih terbuka lebar, seiring lahan yang tersedia yang luas dengan kondisi wilayah beragam, sesuai agro-ekologi masing-masing daerah. Sehingga, pemetaan wilayah hortikultura menjadi sangat penting dalam menentukan komoditas unggulan suatu kawasan, baik untuk tujuan pasar lokal maupun luar daerah. Pemetaan sebenarnya telah dilakukan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) Aceh dari tahun 1996 sampai 2000 lalu. Upaya ini untuk memberi informasi yang tepat kepada para pengambil kebijakan atau para petani dalam menentukan komoditas yang seusai untuk wilayahnya, sehingga produktivitas areal tetap tinggi dan memiliki prospek ekonomi yang baik.

Bukan itu saja, aspek teknis, teknologi budidaya serta pembangunan infrastruktur dimasukkan dalam aspek pengembangan sebuah wilayah. “Pendekatan agro-ekologi dilakukan berdasarkan kenyataan, pengalihan teknologi pembudidayaan suatu komoditas kerap gagal,” jelas Ir T Iskandar MSi, Kepala BPTP Aceh awal pekan ini. “Pemetaan hortikultura sangat diperlukan, bukan hanya untuk kepentingan para peneliti atau penyuluh lapangan, tetapi juga perencana dan pelaku pembangunan pertanian, termasuk para petani sendiri,” tambahnya.

Disebutkan, melalui pemetaan akan didapat secara tepat, kondisi sebuah daerah, mulai dari iklim, fisiografi, bentuk wilayah sampai tingkat kesuburan tanah yang merupakan komponen utama agro-ekologi. Dia menjelaskan, keberhasilan pengembangan usaha hortikultura sangat tergantung dari potensi suatu wilayah, terutama pada kesesuaian sumber daya lahan. Sehingga, dibutuhkan pendekatan secara optimal dalam pemanfaatan sumber daya lokal dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia seperti petani, pengusaha dan pedagang, termasuk para pengambil kebijakan.

Pemetaan wilayah komoditas yang ditampilkan dalam bentuk peta produksi akan sangat berguna bagi rencana pengembangan produksi. Komoditas yang dikembangkan harus unggulan lokal agar dapat memperkaya dan membangkitkan kembali potensi komoditas, tanpa memaksakan suatu komoditas yang tidak sesuai dengan kondisi lahan setempat. Oleh karenanya, BPTP telah menetapkan zona agro-ekologi Provinsi Aceh yakni Kabupaten Aceh Besar, Pidie, Aceh Utara, Aceh Tengah, Aceh Timur dan pantai barat-selatan Aceh. Hasil pengkajian berupa data keadaan biofisik, sosial ekonomi dan peta pewilayahan komoditas dengan skala 1:250.000.

Untuk kasus ini, diambil sejumlah sampel yang cocok dikembangkan di sebuah wilayah di Aceh, seperti cabai merah, tomat buah, melon, semangka dan tanaman buah seperti mangga, manggis dan jeruk. Tanaman cabai merah dan sejenisnya, cocok dikembangkan di Kabupaten Gayo Lues, Aceh Tengah, Singkil, Bener Meriah dan timur Pidie. Daerah ini memiliki suhu rata-rata 18-27 derajat Celcius dengan curah hujan 600-1200 mm/tahun yang sesuai untuk pertumbuhan cabai dengan optimal. Tetapi, juga didukung kondisi tanah yang bertekstur berpasir sampai lempung atau liat, cukup bahan organik, gembur, drainase baik, pH tanah 5,5-7,6.

Tanaman tomat juga cocok dikembangkan di Gayo Lues, Aceh Tengah, Singkil dan Bener Meriah karena didukung suhu 18-25 derajat celcius, curah hujan 400-700 mm selama pertumbuhan. Tekstur tanah bervariasi, berbutir sampai bersudut, gembur dan pH 6,0-7,5. Buah melon seusai untuk daerah Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur. Daerah ini memiliki suhu rata-rata 18-35 derajat celcius dengan curah hujan 400-700 mm yang cocok untuk tanaman melon yang didukung drainase cepat dan pH 6,0-7,5.

Sedangkan untuk tanaman buah, mangga cocok dikembangkan di Kabupaten Aceh Besar, timur Pidie, Bireuen, Aceh Utara dan Aceh Timur. Kawasan ini memiliki temperatur 21-28 derajat Celcius dan curah hujan 750-2500mm/tahun dengan masa kekeringan 3 sampai 6 bulan, serta pH 5,5-7,8, Khusus tanaman manggis yang hanya tumbuh di daerah subtropis yang sangat digemari di Jepang dan Korea cocok dikembangkan di Kabupaten timur Pidie, Aceh Barat, Nagan Raya, Abdya, Aceh Selatan dan Singkil. Tanaman tropis ini tumbuh dengan baik pada suhu 20-23 derajat Celcius dengan curah hujan sekitar 750-2500 mm/tahun dengan masa kekeringan 4 bulan.

Salah satu tanaman buah primadona, jeruk, hanya cocok dikembangkan di dua wilayah, Aceh Tengah dan Bener Meriah. Iklim kawasan ini yang berkisar pada 22-30 derajat Celcius dan curah hujan sekitar 800 mm/tahun serta masa kemarau 4 bulan sangat mendukung pertumbuhan jeruk. Peneliti BPTP, Chairunnas menjelaskan penetapan komoditas ini telah melalui berbagai penelitian selama beberapa tahun dengan tujuan menetapkan komoditas unggulan untuk dikembangkan agar berhasil dengan baik. Tetapi, dia mengakui, daerah lainnya bukan berarti tidak cocok, namun hasilnya tidak optimal. Kepala BTP Aceh, Iskandar menyatakan pemerintah kabupaten/kota harus mampu menciptakan sebuah kawasan secara berkelanjutan, bukan hanya sayur-sayuran, tetapi tanaman buah berorientasi ekspor, seperti manggis.(***)

Pemetaan Sebagian Komoditas Hortikultura

No. Jenis Tanaman Temperatur Kabupaten
1 Cabai 21-27 Gayo Lues, Aceh Tengah, Singkil, Bener Meriah, Pidie Timur
2. Tomat 18-24 Gayo Lues, Aceh Tengah, Singkil, Bener Meriah
3. Melon 18-35 Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur
4. Semangka 22-30 Aceh Besar, Pidie, Pidie Jaya, Bireuen, Aceh Utara, Tamiang, Aceh Timur
5. Mangga 21-28 Aceh Besar, Pidie Timur, Bireuen, Aceh Utara, Aceh Timur
6. Manggis 20-23 Pidie Timur, Aceh Barat, Nagan Raya, Aceh Selatan, Singkil
7. Jeruk 22-30 Aceh Tengah, Bener Meriah

Sumber:
Berdasarkan Penelitian BPTP Aceh, 1996-2000, dalam :
http://www.serambinews.com/news/pentingnya-pemetaan-hortikultura-di-aceh
16 November 2009

Harga Komoditas Hortikultura Melonjak

Produksi Pertanian Berkurang akibat Cuaca Tak Menentu

Harga beberapa komoditas hortikultura di sejumlah pasar tradisional Kota Bandung melonjak hingga 60 persen dalam sepekan terakhir. Penyebabnya antara lain pasokan dari sentra pertanian berkurang seiring cuaca yang semakin tidak menentu sehingga sebagian panen komoditas hortikultura gagal.

Berdasarkan pantauan di sejumlah pasar tradisional, Kamis (12/11), harga bawang merah kini mencapai Rp 12.000 per kilogram. Padahal, akhir pekan lalu, harga komoditas itu masih Rp 9.000 per kg.

Dana Sutisna (63), pedagang Pasar Kosambi, menuturkan, kenaikan harga bawang merah terjadi sejak empat hari lalu. Pasokan dari Brebes, Jawa Tengah, semakin berkurang.

"Biasanya, saya membeli stok bawang merah 15 kg. Namun, hari ini hanya bisa mendapat 10 kg. Banyak petani bawang di Brebes gagal panen karena curah hujan tidak menentu," ujarnya.

Hal senada disampaikan Jajang Nurjaman, pedagang grosir di Pasar Induk Caringin. Menurut dia, pasokan petani penghasil bawang berkurang signifikan sehingga mendongkrak harga di pasar.

Harga komoditas lain, seperti tomat merah, juga meningkat hingga 60 persen dari Rp 3.000 per kg menjadi Rp 5.000 per kg. Harga cabai hijau semula Rp 8.000 per kg menjadi Rp 10.000 per kg.

Kenaikan harga itu cukup dirisaukan pedagang karena khawatir pelanggan beralih ke pasar modern. "Harga di pasar modern relatif sama, tapi pengemasannya lebih menarik," ujar Een Istanti (32), pedagang Pasar Cihaurgeulis, yang mengaku komoditas hortikultura yang dijualnya dipasok dari petani di daerah Lembang, Bandung Barat.

Stok panen menipis

Saipudin, petani sayuran di Kecamatan Lembang, mengatakan, stok hasil panen menipis sehingga tidak bisa mengirimkan sejumlah sayuran ke pasar. Dia mengaku sudah hampir enam bulan terakhir tidak dapat menanam beberapa jenis sayuran di ladang karena sulit mendapat air.

"Sekali turun hujan, deras sekali. Cuaca yang berubah-ubah membuat hasil panen jelek dan berkurang," katanya. Saat ini sekitar 2 hektar ladang miliknya hanya ditanami palawija jenis tertentu yang tidak membutuhkan air banyak, seperti jagung dan singkong.

Ketua Kontak Tani Nelayan Andalan Jabar Oo Sutisna mengakui, kondisi iklim yang tidak menentu seperti saat ini sangat merugikan petani termasuk di sektor hortikultura yang cukup rentan terhadap kondisi lingkungan. Dia juga mengimbau pemerintah provinsi menjamin kebutuhan pupuk petani.

Gubernur Jabar Ahmad Heryawan mengatakan, pemanasan global yang terjadi dalam 10 tahun terakhir sangat memengaruhi kondisi sektor pertanian, termasuk hortikultura. Ini membuat tingkat kesejahteraan petani di Jabar belum menggembirakan. (GRE)

Sumber :
Harian Kompas, Jum'at, 13 Nopember 2009, dalam :
http://www.ahmadheryawan.com/lintas-jabar/ekonomi-bisnis/8184-harga-komoditas-hortikultura-melonjak.html

Upaya Pengembangan Kawasan Tanaman Hias untuk Ekspor

Permintaan tanaman hias di pasar dunia cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun demikian juga permintaan akan produk tanaman hias tropis cenderung terus meningkat. Produsen tanaman hias tropis jumlahnya masih relatif terbatas, dan Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki keunggulan sumberdaya alam yang cukup dipandang mampu melakukan penetrasi pasar internasional tanaman tropis.

Produksi tanaman hias Indonesia tumbuh secara mengesankan dalam beberapa tahun terakhir dan telah memberikan kontribusi pada PDB yang juga meningkat setiap tahun. Pada tahun 2000 kontribusi pada PDB mencapai Rp 2,8 trilyun dan menjadi Rp 4,6 trilyun pada tahun 2004 serta diperkirakan akan menjadi Rp 7,7 trilyun pada tahun 2008 dengan laju pertumbuhan sebesar 13,6% per tahun.

Beberapa kegiatan Ditjen Hortikultura dalam pengembangan dan ekspor tanaman hias antara lain adalah:

1. Polycias telah diekspor terutama ke Korea Selatan dan telah berlangsung sejak tahun 1960an, namun jumlahnya masih sangat terbatas. Para eksportir masih sangat mengandalkan pada tanaman hasil colecting dari kebun disekitar pemukiman penduduk dengan jumlah tanaman yang relatif sangat terbatas dan pemeliharaannya tidak intensif. Hal ini menyebabkan jumlah ekspor dengan kualitas relatif rendah dan kontinuitas tidak terjamin. Polyscias mulai di budidayakan secara intensif dengan fasilitasi Ditjen Hortikultura dan pemda, antara lain di Batam (10 ha) dan Sukabumi (45 ha). Ekspor Polyscias fruticosa ke Korea Selatan cenderung terus meningkat, yaitu pada tahun 2004 (10 container), 15 container (2005), 20 container (2006), 25 container (2007), 30 container (2008) dan tahun 2009 s/d juni 2009 mencapai 18 container dengan target 50 container.

2. Tanaman tropis Raphis excelsa dari Indonesia di ekspor ke Belanda. Pasar terbesar adalah Inggris dan Jerman, hanya saja eksportir Indonesia belum mampu menembusnya. Indonesia merupakan negara produsen utama komoditi ini dengan negara peasing antara lain Vietnam dan Malaysia. Eksportir Raphis excelsa masih sangat terbatas, hanya 5 perusahaan yaitu PT. Agro21 Gemilang, PT. Benara, PT. Tropical Greeneries, PT. Inti matahari, dan CV. ASA Indonesia. Mereka masih sangat tergantung pada pasokan dari para pengumpul yang mengumpulkan tanaman dari sekitar perumahan penduduk dengan luas yang sangat terbatas dan perawatan tidak intensif. Kondisi seperti ini menyebabkan keterbatasan dalam memenuhi quota ekspor, baik jumlah, kontinuitas dan kualitas.Untuk menambah kemampuan memasok pasar global, Direktorat Jenderal Hortikultura mulai tahun 2008 mengembangkan sentra baru di Sumatera Barat (Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi), Riau (Pakanbaru), dan Kepri (Batam dan Bintan).

3. Leather leaf atau pakis diusahakan oleh swasta di Kabupaten Magelang (62 Ha), Wonosobo (8 Ha), Cianjur (10 ha) dan Sukabumi (10 Ha). Pasar yang dituju adalah pasar Jepang dengan jumlah permintaan sekitar 150 juta tangkai pertahun. Preferensi pasar Jepang terhadap Leather Leaf Indonesia lebih tinggi dibanding dengan produk asal Costarica dan Amerika karena factok jarak tempuh dan waktu pengiriman yang lebih pendek. Kontribusi Leather leaf Indonesia di pasar Jepang sekitar 5% dari total permintaan, sedangkan Negara lain yang memasok antara lain USA (44%), Costarica (8%), Thailand (1%) dan Negara lain (42%). Untuk menambah kemampuan memasok pasar global, Direktorat Jenderal Hortikultura mulai tahun 2008 mengembangkan sentra baru di Jawa Tengah (Semarang, Magelang, Boyolali dan Wonosobo).

4. Rencana Ekspor

a. Raphis Excelsa
Ekspor pada kawasan baru di Sumbar, Riau dan Kepri akan dicoba pada akhir tahun 2009 sebanyak 1 container. Untuk tahun 2010 direncanakan 3 container dan 2011 direnanakan 12 container.

b. Polyscias
Ekspor Polyscias akan dicobakan pada tahun 2010 sebanyak 1 container dan tahun 2011 dan seterusnya 2 container pertahun dari Batam.

c. Leather leaf
Ekspor Leather Leaf berbasis kebun plasma pada tahun 2010 akan dicobakan sebanyak 3 juta tangkai. Apabila scenario pengembangan kebun dapat dilaksanakan seperti butir di atas maka pada tahun 2014 dapat di ekspor sebanyak 10,1 juta tangkai.

Sumber :
http://www.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=244&Itemid=2
19 Agustus 2009

Pengembangan Usaha Hortikultura

Untuk memenuhi kebutuhan produk hortikultura dalam negeri maupun ekspor, diperlukan upaya peningkatan produksi melalui pengembangan usaha hortikultura. Kebijakan yang diambil pemerintah dilakukan melalui penumbuhan dan pemantapan sentra produksi, serta pembinaan kelembagaan agribisnis.

A. Pendekatan Dalam Pengembangan Usaha
Pengembangan usaha hortikultura melalui penerapan sistim agribisnis dapat memberikan peluang cukup besar untuk meningkatkan pendapatan petani baik skala kecil, menengah maupun besar. Ada beberapa pendekatan yang digunakan dalam pengembangan usaha hortikultura, antara lain pemanfaatan potensi wilayah, pengembangan kelembagaan, penumbuhan dan pemantapan sentra dan peningkatan/pengembangan manajemen usaha.

1. Pemanfaatan potensi wilayah
Pengembangan usaha hortikultura pada prinsipnya adalah pemanfaatan potensi yang dimiliki oleh suatu wilayah sehingga kegiatan usaha hortikultura dapat berperan sebagai penggerak perekonomian dan kesejahteraan masyarakat. Karena itu dalam proses pengembangan usaha hortikultura diperlukan identifikasi dan pengkajian yang berkaitan dengan potensi sumberdaya berupa sumber daya alam, sumber daya manusia dan sumber daya pendukung berbasis komoditas.

Keberhasilan pengembangan usaha hortikultura sangat ditentukan oleh potensi suatu wilayah, terutama pada kesesuaian sumber daya lahan dan potensi pasar. Untuk itu diperlukan pendekatan dalam rangka mengoptimalkan pemanfaatan sumber daya lokal dan peningkatan kemampuan sumber daya manusia (petani, pengusaha, pedagang) dan pelaku usaha lainnya sehingga menjadi pelaku yang handal.

Pewilayahan komoditas yang ditampilkan dalam bentuk peta produksi dan pengembangan agribisnis hortikultura akan sangat berguna bagi rencana pengembangan produksi dan bagi para pengusaha untuk menanamkan modalnya di bidang agribisnis.

2. Penumbuhan dan pengembangan sentra
Penumbuhan sentra hortikultura dilakukan dengan cara pemanfaatan sumber daya alam yang selama ini belum dikelola secara optimal (terutama sumber daya lahan, air, dan infrastruktur), peningkatan intensitas dan indeks pertanaman melalui penerapan teknologi usahatani. Komoditas yang dikembangkan adalah komoditas unggulan lokal agar dapat memperkaya dan membangkitkan kembali potensi komoditas yang ada di suatu daerah.

Pemanfaatan sentra hortikultura lebih diarahkan kepada peningkatan produktivitas, kontinyuitas pasokan produk kepada konsumen atau pelanggan, dan perbaikan standard mutu yang sesuai dengan permintaan konsumen. Pemantapan sentra komoditas dilaksanakan melalui optimalisasi fungsi semua sub sistem dalam sistem agribisnis hortikultura yaitu mengembangan aspek pra panen, pasca panen, pemasaran dan pemantapan kelembagaan usaha. Dengan demikian nilai tambah dan daya guna terhadap produk hortikultura yang diterima petani bisa menjadi lebih optimal.

(Untuk informasi lebih lengkapnya silahkan berlangganan Tabloid SINAR TANI. SMS ke : 081584414991)

Sumber :
http://www.sinartani.com/mimbarpenyuluh/pengembangan-usaha-hortikultura-1249273290.htm