Jumat, 27 November 2009

Upaya Pengembangan Kawasan Tanaman Hias untuk Ekspor

Permintaan tanaman hias di pasar dunia cenderung terus meningkat dari tahun ke tahun demikian juga permintaan akan produk tanaman hias tropis cenderung terus meningkat. Produsen tanaman hias tropis jumlahnya masih relatif terbatas, dan Indonesia sebagai negara tropis yang memiliki keunggulan sumberdaya alam yang cukup dipandang mampu melakukan penetrasi pasar internasional tanaman tropis.

Produksi tanaman hias Indonesia tumbuh secara mengesankan dalam beberapa tahun terakhir dan telah memberikan kontribusi pada PDB yang juga meningkat setiap tahun. Pada tahun 2000 kontribusi pada PDB mencapai Rp 2,8 trilyun dan menjadi Rp 4,6 trilyun pada tahun 2004 serta diperkirakan akan menjadi Rp 7,7 trilyun pada tahun 2008 dengan laju pertumbuhan sebesar 13,6% per tahun.

Beberapa kegiatan Ditjen Hortikultura dalam pengembangan dan ekspor tanaman hias antara lain adalah:

1. Polycias telah diekspor terutama ke Korea Selatan dan telah berlangsung sejak tahun 1960an, namun jumlahnya masih sangat terbatas. Para eksportir masih sangat mengandalkan pada tanaman hasil colecting dari kebun disekitar pemukiman penduduk dengan jumlah tanaman yang relatif sangat terbatas dan pemeliharaannya tidak intensif. Hal ini menyebabkan jumlah ekspor dengan kualitas relatif rendah dan kontinuitas tidak terjamin. Polyscias mulai di budidayakan secara intensif dengan fasilitasi Ditjen Hortikultura dan pemda, antara lain di Batam (10 ha) dan Sukabumi (45 ha). Ekspor Polyscias fruticosa ke Korea Selatan cenderung terus meningkat, yaitu pada tahun 2004 (10 container), 15 container (2005), 20 container (2006), 25 container (2007), 30 container (2008) dan tahun 2009 s/d juni 2009 mencapai 18 container dengan target 50 container.

2. Tanaman tropis Raphis excelsa dari Indonesia di ekspor ke Belanda. Pasar terbesar adalah Inggris dan Jerman, hanya saja eksportir Indonesia belum mampu menembusnya. Indonesia merupakan negara produsen utama komoditi ini dengan negara peasing antara lain Vietnam dan Malaysia. Eksportir Raphis excelsa masih sangat terbatas, hanya 5 perusahaan yaitu PT. Agro21 Gemilang, PT. Benara, PT. Tropical Greeneries, PT. Inti matahari, dan CV. ASA Indonesia. Mereka masih sangat tergantung pada pasokan dari para pengumpul yang mengumpulkan tanaman dari sekitar perumahan penduduk dengan luas yang sangat terbatas dan perawatan tidak intensif. Kondisi seperti ini menyebabkan keterbatasan dalam memenuhi quota ekspor, baik jumlah, kontinuitas dan kualitas.Untuk menambah kemampuan memasok pasar global, Direktorat Jenderal Hortikultura mulai tahun 2008 mengembangkan sentra baru di Sumatera Barat (Padang, Padang Panjang, Bukit Tinggi), Riau (Pakanbaru), dan Kepri (Batam dan Bintan).

3. Leather leaf atau pakis diusahakan oleh swasta di Kabupaten Magelang (62 Ha), Wonosobo (8 Ha), Cianjur (10 ha) dan Sukabumi (10 Ha). Pasar yang dituju adalah pasar Jepang dengan jumlah permintaan sekitar 150 juta tangkai pertahun. Preferensi pasar Jepang terhadap Leather Leaf Indonesia lebih tinggi dibanding dengan produk asal Costarica dan Amerika karena factok jarak tempuh dan waktu pengiriman yang lebih pendek. Kontribusi Leather leaf Indonesia di pasar Jepang sekitar 5% dari total permintaan, sedangkan Negara lain yang memasok antara lain USA (44%), Costarica (8%), Thailand (1%) dan Negara lain (42%). Untuk menambah kemampuan memasok pasar global, Direktorat Jenderal Hortikultura mulai tahun 2008 mengembangkan sentra baru di Jawa Tengah (Semarang, Magelang, Boyolali dan Wonosobo).

4. Rencana Ekspor

a. Raphis Excelsa
Ekspor pada kawasan baru di Sumbar, Riau dan Kepri akan dicoba pada akhir tahun 2009 sebanyak 1 container. Untuk tahun 2010 direncanakan 3 container dan 2011 direnanakan 12 container.

b. Polyscias
Ekspor Polyscias akan dicobakan pada tahun 2010 sebanyak 1 container dan tahun 2011 dan seterusnya 2 container pertahun dari Batam.

c. Leather leaf
Ekspor Leather Leaf berbasis kebun plasma pada tahun 2010 akan dicobakan sebanyak 3 juta tangkai. Apabila scenario pengembangan kebun dapat dilaksanakan seperti butir di atas maka pada tahun 2014 dapat di ekspor sebanyak 10,1 juta tangkai.

Sumber :
http://www.hortikultura.deptan.go.id/index.php?option=com_content&task=view&id=244&Itemid=2
19 Agustus 2009

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar