Sabtu, 28 November 2009

Dikembangkan Kawasan Agribisnis Hortikultura

Departemen Pertanian akan mengembangkan konsep baru berupa Kawasan Agribisnis Hortikultura atau KAH, untuk meningkatkan produksi dan mutu hasil pertanian hortikultura.

Di dalam KAH, nantinya akan dibangun fasilitas infrastruktur ekonomi hortikultura berupa penyediaan sarana produksi, budidaya, penanganan dan pengolahan pascapanen, termasuk sarana pemasaran.

"Kami telah mengidentifikasikan 66 kawasan di seluruh Indonesia. Kawasan ini akan menggabungkan beberapa sentra produksi hortikultura yang berdekatan. Jadi dapat lintas kabupaten bahkan lintas provinsi, dapat pula lebih dari satu komoditas," ujar Direktur Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Ahmad Dimyati, Sabtu (28/4) di Lembang, Kabupaten Bandung, Jawa Barat.

Menurut Ahmad, setelah identifikasi, akan dilanjutkan verifikasi ke lapangan, kemudian digelar musyarawarah rencana pembangunan termasuk penyusunan pembiayaan.

Beberapa KAH yang sudah diidentifikasi, diantaranya Dataran Tinggi Gayo di Aceh untuk komoditas kopi, Lampung Barat sebagai penghasil sayur-mayur, Banten penghasil durian dan sawo, Cirebon-Majalengka-Brebes penghasil bawang merah, kemudian Subang-Purwakarta penghasil manggis.

"Ada beberapa permasalahan klasik hortikultura, seperti mahalnya biaya transportasi yang menaikan harga produk sehingga mengurangi daya saing produk. Kemudian keberadaan tengkulak. Dengan pembentukan kawasan, sinergi beberapa kekuatan ekonomi akan mereduksi penghambat itu," ujar Ahmad.

Ketika KAH terbentuk maka lebih mudah membuat perkiraan usaha termasuk permodalan dan peluang bisnis. Di Indonesia, potensi hortikultura sangat besar.

Luas panen

Tanaman yang dikembangkan sebanyak 323 varietas, terdiri 80 varietas sayuran, 60 varietas buah-buahan, 117 varietas tanaman hias, dan 66 varietas biofarma.

Luas panen untuk buah-buahan saja 717.428 hektar dengan produksi 14,79 juta ton. Buah yang dieskpor 0,27 juta ton per tahun dengan nilai 150 juta dollar Amerika Serikat.

Komoditas prioritas untuk buah terdiri jeruk, pisang, mangga, manggis. Sedangkan sayuran terdiri cabe, bawang merah, dan kentang.

Untuk tanaman hias, komoditas prioritasnya anggrek dan bunga lili. Sementara komoditas unggulan untuk buah berupa durian, pepaya, salak, dan nenas.

Untuk sayuran terdiri tomat, kubis, kacang panjang, dan bawang putih. Sedangkan tanaman hias berupa mawar, anyelir, krisan, sedap malam, dan dracaena.

Saat berkunjung ke Wanayasa, Kabupaten Purwakarta, petani manggis Ade Sugema mengatakan, banyaknya pengumpul menyebabkan harga jual manggis tidak terlalu baik. Jika mata rantai perdagangan manggis bisa dipotong, keuntungan petani bisa lebih besar.

Ahmad Dimyati menambahkan, KAH akan berperan lebih besar bagi petani. Tidak hanya membangun pusat pemasaran, tetapi KAH juga akan memberi pembelajaran pada petani supaya menghasilkan buah atau sayur-mayur dengan kualitas terbaik.

Untuk manggis kualitas ekspor dijual dengan harga Rp 15.000- Rp 17.000 per kilogram. Sedangkan harga jual manggis untuk pasar lokal hanya Rp 4.000-Rp 5.000 per kilogram. (RYO)

Sumber :
http://202.146.5.33/kompas-cetak/0704/30/ekonomi/3490783.htm
30 April 2007

Tidak ada komentar:

Poskan Komentar