Sabtu, 28 November 2009

Peluang Bisnis Hortikultura Masih Luas


Peluang potensi bisnis bidang hortikultura di Indonesia masih sangat luas. Terutama di dunia internasional, produk hortikultura asal Indonesia yang beredar masih sangat sedikit. Ini menjadi peluang bagi masyarakat untuk mengembangkan tanaman hortikultura, terutama dari daerah Malang.

Hal itu disampaikan Kepala Direktorat Jenderal Hortikultura Departemen Pertanian RI, Dr Ahmad Dimyati, saat membuka Pameran East Java Flora Festival di Gedung Dome Universitas Muhammadiyah Malang (UMM), Sabtu (19/5). Hadir dalam kesempatan itu, Rektor UMM, Drs Muhadjir Effendy MAP dan Ketua Badan Pelaksana Harian (BPH) UMM Prof Dr Malik Fadjar.
Menurut Dimyati, potensi daerah Malang masih cukup besar untuk pengembangan budidaya tanaman. Dengan sedikit peningkatan teknologi, investasi dan kondisi kundusif di lingkungan masyarakat, sumber daya alam (SDA) di bidang ini akan meningkat.
"Dan sudah pasti hasilnya bisa dinikmati masyarakat luas," tegasnya.

Dalam kegiatan yang dikuti sekitar 84 pengusaha bidang tanaman dan lembaga penelitian itu, berbagai produk dipamerkan. Di antaranya tanaman jenis bunga, daun-daunan, dan buah serta berbagai jenis pupuk, pot, dan benih. Tak ketinggalan sejumlah produk olahan seperti cuka apel, sari apel dan jejang apel. Produk menarik lain misalnya, stan tanaman yang menawarkan media tanam berupa jelly dengan aneka warna yang bisa diletakkan dalam pot kaca tembus pandang.
Ketua penyelenggara, Drs Untung Santoso MSi, mengatakan melalui pameran ini diharapkan masyarakat pecinta tanaman bisa menambah koleksinya. "Selain itu juga memberi wadah bagi para pengusaha dan penjual tanaman mengenalkan produknya," tandas Untung. rie

Sumber :
http://www1.surya.co.id/v2/?p=9799
20 Mei 2007

Sumber Gambar:
http://1.bp.blogspot.com/_ON3V_iGCKwg/RqjPNvdUSVI/AAAAAAAAATI/UKrDIBc1OMk/s400/fruits_and_vegetables2.jpg

Pemanasan Global Pengaruhi Tanaman Hortikultura

Departemen Pertanian (Deptan) mengungkapkan gejala pemanasan global berupa peningkatan suhu bumi telah mempengaruhi pertanaman hortikultura terutama komoditas yang membutuhkan suhu kurang dari 25 derajat celsius seperti sayuran buah, dan tanaman hias.

Dirjen Hortikultura Deptan, Ahmad Dimyati di Jakarta, Selasa mengatakan, di beberapa wilayah sentra produksi kentang mulai terlihat untuk menanam komoditas tersebut dari yang semula dapat dilakukan pada ketinggian 1.000 meter di atas permukaan laut (dpl) kini harus naik pada ketinggian 1.200 meter dpl.

"Jadi sekarang untuk menanam kentang harus mencari lahan yang lebih tinggi lagi," katanya.

Menurut dia, terjadinya peningkatan suhu di dataran-dataran tinggi tersebut disebabkan banyak lahan di kawasan itu berubah menjadi pemukiman maupun kawasan industri.

Kondisi tersebut, tambahnya, meningkatkan suhu di wilayah pegunungan yang banyak dimanfaatkan untuk menanam sayuran yang membutuhkan suhu dingin, akibatnya produktivitasnya menurun.

Ahmad Dimyati mengatakan, untuk mengantisipasi gejala pemanasan suhu bumi tersebut pihaknya melakukan pengembangan tanaman sayur maupun buah yang dapat dibudidayakan pada lahan di dataran rendah maupun menengah.

"Pada tahap awal kami akan kembangkan kentang yang bisa ditanam pada ketinggian 600-800 meter dpl atau pada suhu 18 derajat celsius," katanya.

Dikatakannya, pada 1994 Badan Penelitian dan Pengembangan (Litbang) Pertanian, Deptan berhasil mengembangkan kentang pada lahan berketinggian 600 meter dpl di kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Saat ini, menurut dia, 75 persen dari total kebutuhan kentang di dalam negeri masih harus dipenuhi dari impor.

Kebutuhan kentang tersebut terbanyak untuk industri makanan olahan seperti keripik kentang, yang mana kapasitas pabrik mencapai 10 ribu ton per tahun.

Dirjen Hortikultura menegaskan, bertepatan dengan Tahun Kentang Internasional (Internasional Potato Year) pada 2008 pemerintah bertekad untuk mampu memenuhi kebutuhan kentang dalam negeri secara mandiri. (*/boo)

Sumber :
http://www.kapanlagi.com/h/0000195411.html
17 Oktober 2007

Deptan Kurangi Impor Produk Hortikultura

Departemen Pertanian (Deptan) berencana mengurangi impor hortikultura (sayur dan buah), hal tersebut dilakukan untuk mendukung usaha dalam negeri dan menciptakan daya saing usaha.

"Saat ini produk impor hortikultura di pasaran sudah sangat menjamur. Pasar impor itu harus direbut kembali agar pelaku usaha dalam negeri semakin termotivasi untuk meningkatkan usahanya." kata Sekretaris Ditjen Hortikultura Deptan. Sri Kuntarsih. dalam Lokakarya Kehumasan Deptan, di Bandung, Rabu (11/11).

Menurutnya, impor hortikultura hingga saat ini mencapai 60 persen dari total produk hortikultura yang beredar di pasar modern. Namun, ke depan akan dikurangi menjadi 40 persen.

Untuk mendorong peningkatan produksi hortikultura di dalam negeri, katanya, pemerintah berupaya menerapkan teknologi maju untuk budidaya hortikultura.menggunakan benih unggul, menentukan komoditas yang akan diajukan sebagai prioritas, serta menerapkan teknik penanganan pascapanen untuk mengurangi losses.

Menteri Pertanian baru-baru ini juga mengeluarkan Peraturan Menpertan No.48 Permentan/OT. 140/10/ 2009 mengenai pedoman budidaya buah dan sayur yang baik. Ini dilakukan supaya mutu hortikultura tetap baik.

Di sisi lain, pemerintah akan mengatasi keterbatasan lahan, diversifikasi komoditas, mengatur pola tanam dalam menjaga ketersediaan sepanjang musim, optimalisasi pekarangan untuk pengembangan sayuran indigenous maupun mengatur manajemen usaha secara bekelompok

Sedangkan untuk membendung komoditi hortikultura impor, katanya, pemerintah akan menetapkan peraturan sanitary dan phytosanitary serta sanksinya. Selain itu. menentukan batas maksimum residu dan sanksinya. Peraturan impor hanya diizinkan pada saat tidak musim panen buah.

"Selanjutnya pemerintah akan memperketat pengawasan perkarantinaan. registrasi importir dan periode pengakuan importir. Bahkan, kami akan melakukan pengawasan terhadap mutu produk hortikultura impor yang beredar di pasar dalam negeri." jelasnya.

Pemerintah juga akan mengatasi ketergantungan benih impor dengan melakukan revitalisasi pembenihan secara bertahap, memperkuat industri pembenihan dalam negeri dan melakukan pensembagan sistem informasi manajemen perbenihan.

"Langkah pemerintah itu diikuti permodalan vane memadai. Bahkan, untuk meningkatkan akses permo daln. pemerintah akan mr lakukan sertifikasi lahan, melakukan penjaminan usa ha berupa pasar dalam ben tuk kemitraan dagang tertulis dan jangka panjang." katanya, (cr-1)

Sumber :
Pelita, 12 November 2009 dalam :
http://www.bataviase.co.id/detailberita-10237339.html

Adopsi Teknologi Sektor Hortikultura BPTP Rendah

Badan Penelitian dan Pengembangan Departemen Pertanian (Balitbang Deptan) mengakui, adopsi teknologi yang dihasilkan Balai Pengkajian Teknologi Pertanian (BPTP) masih sangat rendah di sektor hortikultura, berbeda dengan tanaman pangan/palawija yang daya serapnya rata-rata cukup bagus.

"Itu terjadi karena di sektor hortikultura peran swasta sangat kuat, beda dengan tanaman pangan dan palawija yang masih banyak juga dikuasai oleh petani," kata kepala Balitbang Deptan, Gatot Irianto, di Medan, malam ini.

Dia berbicara menjawab pertanyaan wartawan usai acara pergantian Kepala BPPT Sumut dari pejabat lama M Prama Yufdy ke Didik Harinowo dimana sekaligus dilakukan penandatanganan kerja sama BPTP Sumut dan Pemkab Batubara dan Pakpak Bharat.

Untuk meningkatkan adopsi teknologi di sektor hortikultura itu, maka, kata dia, BPTP sudah diminta menciptakan teknologi untuk pengembangan buah lokal seperti Rambutan Binjai, Sumut. Apalagi, katanya, potensi pasar buah lokal sebenarnya masih cukup besar, meski memang harus dimulai dengan rasa cinta konsumen atas produk dalam negeri.

"Buah lokal kalau ditangani serius juga bisa menghasilkan rasa dan kualitas buah yang tidak kalah bahkan bisa lebih unggul dari produk impor," katanya.

Menjawab pertanyaan tentang buah lokal yang kalah murah dari harga jual buah impor, menurut Gatot, itu sebenarnya tidak benar, karena hanya merupakan "permainan".

"Harga buah impor tidak transparan. Lihat saja, harga buah yang murah itu tidak bertahan lama, dimana ketika buah lokal produksinya rendah atau tidak ada di pasar, maka harga buah impor itu menjadi melonjak tajam," katanya.

Sumber :
http://www.waspada.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=50633:adopsi-teknologi-sektor-hortikultura-bptp-rendah&catid=14:medan&Itemid=27
7 September 2009

16 Kawasan Hortikultura Siap Direalisasikan

Departemen Pertanian pada 2008 siap merealisasikan 16 kawasan hortikultura di sejumlah wilayah di tanah air guna meningkatkan produksi maupun mutu komoditas pertanian tersebut.


Dirjen Hortikultura Achmad Dimyati di Jakarta, Sabtu mengatakan, dalam setiap kawasan hortikultura tersebut hanya akan dikembangkan satu jenis komoditas unggulan seperti buah-buahan, sayuran, tanaman hias ataupun biofarmaka.


"Target dari pengembangan ini yakni munculnya model kawasan yang komprehensif mulai dari sektor budidaya hingga pasca panen," katanya.


Ke 16 kawasan komoditas hortikultura yang siap dikembangkan tersebut yakni bawang merah di wilayah Brebes, Jawa Tengah serta Cirebon dan Kuningan Jawa Barat.


Manggis di Purwakarta dan Subang (Jawa Barat), Mangga di Cirebon, Indramayu dan Majalengka (Jawa Barat), Jamur Merang meliputi Karawang, Subang, Purwakarta dan Indramayu.


Sedangkan untuk kawasan kentang meliputi Tomohon, Minahasa dan Mondoinding ketiganya di Sulawesi Utara, Cabe dikembangkan di Garut, Ciamis dan Tasikmalaya (Jawa Barat), sementara Salak di Sleman Jogjakarta.


Pengembangan kawasan melon di beberapa wilayah pantai Utara Jawa Tengah, Nenas di Kalimantan Barat dan pisang di Lumajang Jawa Timur.


Sementara itu untuk jenis tanaman hias seperti pakis di Temanggung dan Magelang Jawa Tengah, Rafis meliputi Padang dan Riau, kawasan anggrek dikembangkan di Jabodetabek dan rimpang atau temulawak di Semarang Jawa Tengah.


Selain itu juga siap dikembangkan kawasan tanaman hias jenis daun-daunan.


Dimyati mengatakan, pengembangan 16 kawasan hortikultura tersebut merupakan penyempitan dari 60 kawasan yang direncanakan yang kemudian dikecilkan lagi menjadi 32 kawasan.


Meskipun setiap kawasan hortikultura memiliki komoditas utama yang harus dikembangkan, namun menurut dia masih bisa memiliki komoditas tambahan.


"Penanggung jawab pengembangan kawasan tersebut akan dilakukan oleh setiap pejabat eselon III lingkup Ditjen Hortikultura," katanya.


Pengembangan sebuah kawasan menjadi kawasan agribisnis hortikultura tersebut, Dirjen menyatakan, didasarkan pada beberapa hal seperti tingkat kesiapan wilayah dan pentingnya komoditas yang akan dikembangkan.


Selain itu juga adanya dukungan akses, penerapan praktek budidaya yang baik atau Good Agriculture Practices (GAP), adanya kelembagaan petani serta rantai pasokan atau supply chain yang bagus.


Untuk wilayah-wilayah yang telah ditetapkan sebagai kawasan hortikultura nantinya akan dilengkapi dengan komponen-komponen yang diperlukan seperti infrastruktur, sarana dan prasarana, dukungan perbankan maupun fasilitas rantai pasok.


"Namun untuk melengkapi komponen pendukung ini merupakan tugas dari Ditjen lain seperti P2HP (pengolahan dan pemasaran Hasil pertanian) ataupun PLA (Pengelolaan Lahan dan Air) bahkan dari Departemen Pekerjaan Umum," katanya.


Ketika ditanyakan anggaran yang disiapkan Deptan untuk pengembangan kawasan hortikultura tersebut, Achmad Dimyati tidak menyebut angka pasti karena setiap kawasan dan komoditas berbeda-beda. (*/bee)

Sumber :
http://www.kapanlagi.com/h/0000246516.html
23 Agustus 2008

Pemerintah Bendung Produk Hortikultura Impor

Pemerintah akan membendung produk hortikultura, baik buah dan sayuran impor. Dari hasil kajian Bank Dunia, ternyata hampir 60% pasar hortikultura dalam negeri dikuasai produk impor. Maraknya produk impor itu membuat pelaku usaha, termasuk petani menjadi kurang bergairah.



Sekretaris Direktorat Jenderal Hortikultura, Departemen Pertanian, Sri Kuntarsih kepada wartawan, di Jakarta, Rabu (11/11) mengatakan, ada beberapa kebijakan yang disiapkan pemerintah untuk membendung produk hortikultura impor. Misalnya, menetapkan peraturan sanitary dan phytosanitary, penetapan batas maksimum residu, penetapan standar nasional Indonesia. Tiga ketetapan itu nantinya diikuti dengan sanksi hukum agar pelaku yang melanggar bisa jera.

Kebijakan lain yang akan diberlakukan adalah impor produk hortikultura hanya diijinkan saat tidak musim panen (off season). Pemerintah juga akan melakukan pengawasan mutu terhadap produk impor, terutama pada batas maksimum residu, cemaran biologis, cemaran kimia, dan cemaran benda lain yang menganggu dan membahayakan kesehatan manusia.

“Untuk membuat petani dan pelaku usaha hortikultura bergairah, nomor satu yang harus kita kerjakan adalah membenahi pasar. Kajian Bank Dunia, 60% pasar hortikultura dikuasai produk impor, 40%-nya dalam negeri.”

Pemerintah berupaya mengubah kondisi tersebut. Selama periode 2010-2014, diharapkan produk dalam negeri bisa menguasai minimal 60% pasar dalam negeri. Guna mengurangi impor dan meningkatkan daya saing, pemerintah juga mendorong petani meningkatkan mutu produk hortikultura melalui perbaikan mutu benih dan produk hasil panen.

Karena itu pemerintah juga akan mendorong tumbuhnya pelaku agribisnis komoditi hortikultura. Sebenarnya selama periode 1999-2005, pelaku agribisnis hortikultura tumbuh pesat. Tapi sayangnya sejak 2005, kembali turun karena banyak pelaku bisnis hortikultura luar negeri terjun langsung membeli produk dari petani. Karena kalah bersaing, terutama dalam permodalan banyak pelaku agribisnis dalam negeri gulung tikar.

“Ini harus kita ubah. Tapi karena merupakan tupoksi Departemen Perdagangan, Departemen Pertanian akan mengusulkan agar dibuat kebijakan yang mengatur bagaimana pedagang asing tidak membeli langsung ke petani.”

Ada beberapa strategi dalam pengembangan hortikultura yakni, pengembangan kawasan agribisnis hortikultura, penataan rantai pasokan (supply chain management), penerapan budidaya pertanian yang baik (good agricultural practices/GAP) dan standar Operationing Prosedure (SOP), serta memberikan fasilitas investasi hortikultura.

Pemerintah menargetkan hingga 2014 terjadi peningkatan produksi buah sebanyak 23.805.903 ton atau naik 5%, sayuran 12.264.052 (4,2%), biofarmaka 598.284.439 ton (4%) dan tanaman hias 278.745.121 tangkai (6,5%). Dari peningkatan itu, pemerintah tidak hanya ingin menguasai pasar dalam negeri, tetapi juga ingin meningkatkan ekspor buah dan tanaman hias masing-masing sebesar 5%. (Julian)

Sumber :
http://agroindonesia.co.id/2009/11/12/pemerintah-bendung-produk-hortikultura-impor/
12 November 2009

Konsumsi Hortikultura Masyarakat Indonesia Mencapai Rp. 20 Triliun Per Tahun

Mengutip dari website ipb.ac.id (23/10/09), saat ini Hasil produksi buah dalam negeri sebanyak 400 juta ton setiap tahunnya, selain itu di Indonesia, ada 38 juta orang kaya yang menginginkan kualitas sayuran yang baik dari segi rasa, penampilan hingga aroma, untuk meningkatkan serta perbaikan kualitas petani, saat ini Perhorti dan Departemen Pertanian bekerjasama dengan 2.000 petani.

Perlu diketahui pula bahwa konsumsi holtikultura orang kaya setiap tahun mencapai Rp20 triliun. "Daripada perputaran uang untuk import lebih baik dipenuhi oleh petani lokal, ujar Prof Roedhy Poerwanto guru Besar Departemen Agronomi dan Hortikultura IPB. Oleh karena itu, maka sudah saatnya para pemulia tanaman Indonesia menghasilkan varietas-varietas buah dan sayuran berkualitas dan bermutu tinggi untuk memenuhi kebutuhan dalam negeri yang mencapai Rp. 20 triliyun/ tahunnya (ACS/ BB Online)

Sumber :
http://www.bandungbaratonline.com/index.php?option=com_content&view=article&id=176:konsumsi-hortikultura-masyarakat-indonesia-mencapai-rp-20-triliuntahun&catid=45:pertanian&Itemid=66
25 Oktober 2009